Suatu hari saya main berkunjung ke rumah salah seorang alumnus SMA Gonzaga angkatan 3. Senang sekali bisa datang ke rumahnya bersama beberapa teman. Selain sebagai seorang praktisi pelatihan dan pendidikan di alam terbuka, dia juga menjadi salah satu orang yang pernah diandalkan dalam perubahan format Jambore Kolese Gonzaga menjadi Jambore Baru. Yang mau saya ceritakan kali ini adalah dia nampak sangat bahagia dan tertawa saat mulai menceritakan pengalaman-pengalamannya di masa SMA.
Kebahagiaan memang sangat sederhana.
Tujuan kemerdekaan dan menjadi warga negara memang untuk itu, untuk bahagia.
Kemerdekaan Negara Republik Indonesia bukan hanya menjadi kemenangan atas perjuangan dari segala perendahan yang dilakukan penjajah Belanda.
Kemerdekaan adalah perayaan atas siapa jati diri bangsa Indonesia. Akumulasi dari semangat Gotong Royong, penghargaan terhadap Ibu Pertiwi, Laku Hidup Bhakti kepada Tuhan Pencipta Langit dan Bumi, Sopan Santun dan Cinta pada orangtua dan leluhur, Rasa syukur kepada adat istiadat yang membantu manusia Indonesia untuk bertahan hidup melewati abad demi abad melalui berbagai tahapan peradaban hingga penjajahan demi penjajahan, dan tentunya akumulasi pengetahuan atas keilmuan pengetahuan dan teknologi. Semua hal itu bermuara pada arti kebahagiaan.
Tertawa, penuh, syukur, merasa menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang perubahan dan pembelajaran adalah hal yang tidak dapat digantikan oleh apapun. Itu juga yang dapat kukenang dari pengalaman mengunjungi rekan-rekan alumni yang walaupun sukses di dalam bisnis dan usahanya namun mereka selalu bahagia ketika mengenang masa SMA.
Tentu saja keindahan hidup itu belum tentu terjadi jika kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terjadi dan sampai sekarang Orang-Orang Belanda masih hidup sebagai superior yang merendahkan bangsa ini. Bahwa ada jasa para pahlawan yang tersebunyi di balik tawa dan bahagia kita di masa-masa berikutnya. Kebahagiaan yang mungkin tidak pernah dirasakan oleh para pejuang kemerdekaan.
Ketika aku memikirkan hal mengenai kebahagiaan, ada seorang teman yang mengirimiku poster ini.
Awalnya aku tidak banyak terkesan karena ya seperti hal biasa saja to, sehari-hari juga kan kita selalu berusaha menjadi orang yang bahagia. Tapi apa yang terjadi setelah kuposting dalam Story WA? Ada teman dalam kelompok kemping bilang, "Semua itu ada di Kemcer ya mas Edsss".
Kemping Ceria di alam terbuka memang menjadi penyembuhan atas keadaan kemanusiaan yang suntuk dan butuh penyegaran. Kenangan ternyata hanya salah satu dari semua itu yakni ketika berbagi cerita. Teman yang mau mendengarkan cerita dan memandang dengan senyuman ternyata telah memberikan jalan pada Oxytocin.
Tapi memang benar bahwa Kemping bersama di ruang terbuka hijau membuat otak manusia dipenuhi dengan hormon kebahagiaan. Semua kegiatan yang menghasilkan hormon kebahagiaan dilakukan dalam rangkaian kegiatan Kemping Ceria. Di titik ini aku merasa tercerahkan dan bersyukur sekali lagi karena ternyata kebahagiaan itu buah dari banyak hal yang saling berkaitan.
Dunia modern yang egosentrik, antroposentrik, dikuasai rasionalitas sering melupakan bahwa manusia adalah salah satu makhluk yang hidup di dunia dan karena mampu melihat perjalanan panjang kemanusiaannya dan pengalaman hidupnya maka dapat menarik pembelajaran dan memaknai kebahagiaannya.
Bahwa ada mahkluk lain yang ikut hidup bersama manusia dan mereka juga butuh bahagia. Mereka yang menopang kebahagiaan dan kehidupan manusia tidak boleh dilupakan.
Maukah aku berpikir sampai ke sana? Rasa-rasanya jika dipikir sejenak, pandemi mengajak manusia untuk berpikir dan memaknai lagi arti kebahagiaannya. Rasanya kok ya tidak bisa juga manusia Nusantara lalu dengan mudah menjadi sama dengan monyet jika ia punya waktu sedikit saja untuk melihat Bendera Merah Putih dan mengenang sejarah bangsa besar ini.
Menjadi Indonesia menjadi bahagia, penuh cinta dan optimisme, walaupun ya selalu ada kenyataan yang menyakitkan di masa Pandemi. Tetapi masih ada cinta yang lebih besar lagi yang tidak dapat diukur dengan apapun yang telah terjadi selama kurun waktu 500-1000 tahun terakhir atau lebih di Nusantara. Suatu proses perjalanan yang panjang yang memungkinkan manusia Indonesia untuk hidup dan berbahagia di atas negerinya sendiri. Kebahagiaan yang hendak dibagikan kepada semua orang di dunia dan nampak dari keramahan dan nampak juga dalam berbagai aksi berbagi di masa Pandemi.

Komentar
Posting Komentar