21 Juni-Santo Aloysius Gonzaga SJ

21 Juni - Santo Aloysius Gonzaga SJ


Hari ini adalah pesta Santo Aloysius Gonzaga SJ [ 1568 - 1591 ]. Aloysius [ Luigi ] merupakan putra tertua Marchese [ bangsawan ]  dari Castiglione dan menolak hak waris kebangsawaannya serta meninggalkan keluarganya untuk menjadi seorang Yesuit. 


Aloysius baru berusia tujuh belas setengah tahun saat masuk novisiat Serikat Yesus. Namun demikian, ia sudah dewasa karena latar belakang dan pejuangannya. Motto yang memimpin dia ke novisiat tetap ia pegang selama tahun-tahun berikut: “Saya ibarat sepotong besi yang telah bengkok. Saya masuk biara agar 4 diluruskan kembali.” Aloysius memberikan dirinya secara total ke dalam proses untuk menjadi seorang Yesuit. Setelah mengakhiri masa novisiatnya, ia pindah ke Kolese Roma untuk menyelesaikan studi filsafatnya. Ia telah mulai studi filsafat ketika berada di istana raja di Madrid. Ia mengucapkan ketiga kaulnya (kemiskinan, kemurnian dan ketaatan) pada tanggal 25 November 1587.


Wabah dan kelaparan di Italia tahun 1591 membuat hatinya tergerak untuk merawat orang-orang yang sakit, mengangkut orang yang hampir mati di jalanan, mengemis untuk mengumpulkan dana bagi orang-orang sakit, membawa orang-orang sakit ke rumah sakit dan memandikan mereka serta menyiapkan penerimaan sakramen. 


Ketika ia suatu malam kembali dari rumah sakit, ia berkata kepada pembimbing rohaninya, Pater Robertus Bellarminus, “Saya merasa hari-hari saya tak akan lama lagi. Saya merasakan kerinduan begitu besar untuk bekerja dan melayani Tuhan sehingga saya tidak bisa percaya Tuhan telah memberikan kerinduan itu sekiranya Ia tidak bermaksud mengambil saya dengan segera.”


Aloysius tertular penyakit dan sempat sembuh tapi kondisi fisiknya melemah. Dalam doa, Aloysius diberitahukan bahwa ia akan meninggal pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Ketika hari itu tiba, yaitu tanggal 21 Juni 1591, ia tampak lebih segar daripada hari sebelumnya. Ia memohon Sakramen Bekal Suci, tetapi Pembesarnya menolaknya karena kelihatannya Aloysius tidak akan mati dalam waktu singkat. 


Malam itu untuk kedua kalinya ia minta Bekal Suci, dan supaya pasien itu tenang, lalu diatur baginya agar bisa menerima sakramen tersebut. Dua orang imam tinggal bersama dengan dia pada malam itu. Sesaat sesudah pukul 10.00, rasa sakit lambungnya yang terluka semakin hebat dan tak tertahankan lagi. 


Maka, ia minta supaya badannya diangkat sedikit. Ketika kedua Yesuit itu datang mendekat, mereka mengamati bahwa wajahnya mulai berubah dan mereka menyadari bahwa Aloysius yang muda ini akan segera wafat. Aloysius mengarahkan pandangan matanya kepada salib yang ia pegang, dan sewaktu mencoba menyebut nama Yesus, ia meninggal dunia.


Aloysius Gonzaga berusia 23 tahun dan dimakamkan di Gereja Anunciata, di samping Kolese Roma. Di kemudian hari, jenazahnya yang suci dipindahkan ke Gereja Santo Ignatius. Di sana jenazahnya dihormati sampai hari ini. Aloysius Gonzaga adalah orang kudus Tuhan. Di atas segalanya, ia mencintai kerendahan hati dan doa. Baginya, doa menjadi sangat penting bagi semua pengetahuan; cinta diterima dalam batin melalui doa kontemplatif.


- dari berbagai sumber [ abdisusanto 21/06/2021 ]


Aloysius Gonzaga dilukiskan dengan gambaran seorang laki-laki muda yang mengenakan jubah hitam dengan superpli putih. Atributnya berupa : 

1. Bunga lili melambangkan kesucian pribadinya 

2. Salib yang dipegangnya menunjukkan kesetiaan dan pengorbanan sepanjang hidup

3. Tengkorak menunjukkan karyanya di tengah-tengah orang yang menghadapi kematian

4. Rosario, menunjukkan devosinya kepada Santa Perawan Maria.


(Pengarsipan Tulisan ini sudah mendapat izin dari Gabriel Abdi Susanto, Warga Komunitas Sesawi)




Komentar