Ada yang bilang, beruntunglah seseorang yang mendapat pacar anak Gonz. Karena nilai-nilai yang dipegangnya adalah nilai-nilai altruis seperti "Man For Others" dan nilai keimanan "Ad Maiorem Dei Gloriam" artinya demi lebih besarnya kemuliaan Tuhan. Kalau digabung bolehlah dirumuskan, aku berbuat bagi sesama demi mencintai dan memuliakan Tuhan. Bagaimanakah nilai-nilai itu diajarkan. Kisah dan kegiatan mengalami sendiri bela rasa adalah salah satu cara yang digunakan para pendidik.
Oh iya, pada waktu itu, Masa Orientasi Sekolah mewajibkan siswa dan siswi baru tidak dihantarkan oleh orang tua. Mereka harus mengalami dua hal, jalan kaki atau naik angkutan kota dari lampu merah pertigaan jalan Ampera Raya atau dari perempatan Pejaten Village yang dulu lebih dikenal dengan perempatan Republika. Tujuan dari latihan ini adalah agar siswa-siswi mengenali lingkungannya. Sejak pagi-pagi buta, panitia sudah berjaga di perempatan-perempatan tersebut, untuk memastikan bahwa adik-adiknya merasakan pengalaman yang unik tersebut sambil dengan maksud tersebunyi juga ingin mengenal adik-adik kelasnya yang cantik hehehe.
Saya anak seminary, jadi tidak mengalami semua itu di masa orientasi sekolah yang menarik itu, tetapi pernah menjadi panitia yang berjaga di perempatan ahaha. Saya ingat betul suasana malu-malu mereka berkenalan saat itu. Juga bagaimana kakak kelas sok galak-galak perhatian seperti umumnya remaja lelaki yang terlatih dalam Jambore dan berbagai kegiatan sekolah, meskipun ingin menjaga adik-adik kelasnya tetap tidak boleh terkesan terlalu baik dan memanjakan.
Angkot-angkot yang berisi anak-anak kelas satu itu satu persatu berhenti di depan gerbang besi beroda itu. Semua masuk ke dalam area sekolah dengan seragam putih abu-abu. Setelah doa pembuka, berkenalan dengan para guru dan para biarawan yang bekerja di sekolah a.tersebut, belajar menyanyikan mars, akhirnya semua mendengarkan kisah-kisah tentang teladan berbela rasa.
Salah satu teladan berbela rasa yang amat menarik dan mudah dipahami saat itu adalah teladan membayar angkutan kota. Ada kebiasaan di kalangan siswa-siswi yang tidak pernah mengambil kembalian angkot. Apabila mereka turun di Pasar Minggu harus membayar 700 rupiah, maka sisa kembalian yang 300 rupiah tidak pernah mereka ambil. Siswa-siswi juga kerap membuat aksi sosial berupa bingkisan sembako bagi supir-supir angkot. Membantu sesama dari yang paling dekat yakni yang menghantar berangkat dan pulang dari rumah ke sekolah.
Begitu juga dengan sesama anak Gonzaga, apabila yang dihantar naik mobil melihat teman berseragam Gonzaga berdiri di jalan, pemilik mobil akan berhenti dan mengajaknya ke sekolah. Dari tradisi inilah kemudian muncul tradisi tebengan di kalangan siswa-siswi. Sepulang MOS, anak-anak yang pulang searah, berkumpul untuk pulang bersama baik untuk mengerjakan PR, membahas soal ujian, atau sekadar pulang bersama.
Lompat jauh ke tahun 2015-2016. Siswa-siswi tidak hanya naik angkutan kota. Sekarang sudah ada Grab dan Gojek. Tradisi berbagi sembako telah berubah menjadi kegiatan bazar amal yang dilaksanakan setiap tahun. Berbagai kegiatan filantropi terjadi baik di kalangan alumnie maupun siswa-siswi yang masih bersekolah.
Dua angkutan kota di masa itu diambil dari foto dokumentasi Masa Orientasi Sekolah. Di gambar terlihat siswa-siswi membawa bingkisan sembako dan membagikannya kepada para supir angkutan kota.
Oh iya, pada waktu itu, Masa Orientasi Sekolah mewajibkan siswa dan siswi baru tidak dihantarkan oleh orang tua. Mereka harus mengalami dua hal, jalan kaki atau naik angkutan kota dari lampu merah pertigaan jalan Ampera Raya atau dari perempatan Pejaten Village yang dulu lebih dikenal dengan perempatan Republika. Tujuan dari latihan ini adalah agar siswa-siswi mengenali lingkungannya. Sejak pagi-pagi buta, panitia sudah berjaga di perempatan-perempatan tersebut, untuk memastikan bahwa adik-adiknya merasakan pengalaman yang unik tersebut sambil dengan maksud tersebunyi juga ingin mengenal adik-adik kelasnya yang cantik hehehe.
Saya anak seminary, jadi tidak mengalami semua itu di masa orientasi sekolah yang menarik itu, tetapi pernah menjadi panitia yang berjaga di perempatan ahaha. Saya ingat betul suasana malu-malu mereka berkenalan saat itu. Juga bagaimana kakak kelas sok galak-galak perhatian seperti umumnya remaja lelaki yang terlatih dalam Jambore dan berbagai kegiatan sekolah, meskipun ingin menjaga adik-adik kelasnya tetap tidak boleh terkesan terlalu baik dan memanjakan.
Angkot-angkot yang berisi anak-anak kelas satu itu satu persatu berhenti di depan gerbang besi beroda itu. Semua masuk ke dalam area sekolah dengan seragam putih abu-abu. Setelah doa pembuka, berkenalan dengan para guru dan para biarawan yang bekerja di sekolah a.tersebut, belajar menyanyikan mars, akhirnya semua mendengarkan kisah-kisah tentang teladan berbela rasa.
Salah satu teladan berbela rasa yang amat menarik dan mudah dipahami saat itu adalah teladan membayar angkutan kota. Ada kebiasaan di kalangan siswa-siswi yang tidak pernah mengambil kembalian angkot. Apabila mereka turun di Pasar Minggu harus membayar 700 rupiah, maka sisa kembalian yang 300 rupiah tidak pernah mereka ambil. Siswa-siswi juga kerap membuat aksi sosial berupa bingkisan sembako bagi supir-supir angkot. Membantu sesama dari yang paling dekat yakni yang menghantar berangkat dan pulang dari rumah ke sekolah.
Begitu juga dengan sesama anak Gonzaga, apabila yang dihantar naik mobil melihat teman berseragam Gonzaga berdiri di jalan, pemilik mobil akan berhenti dan mengajaknya ke sekolah. Dari tradisi inilah kemudian muncul tradisi tebengan di kalangan siswa-siswi. Sepulang MOS, anak-anak yang pulang searah, berkumpul untuk pulang bersama baik untuk mengerjakan PR, membahas soal ujian, atau sekadar pulang bersama.
Lompat jauh ke tahun 2015-2016. Siswa-siswi tidak hanya naik angkutan kota. Sekarang sudah ada Grab dan Gojek. Tradisi berbagi sembako telah berubah menjadi kegiatan bazar amal yang dilaksanakan setiap tahun. Berbagai kegiatan filantropi terjadi baik di kalangan alumnie maupun siswa-siswi yang masih bersekolah.
Dua angkutan kota di masa itu diambil dari foto dokumentasi Masa Orientasi Sekolah. Di gambar terlihat siswa-siswi membawa bingkisan sembako dan membagikannya kepada para supir angkutan kota.


Komentar
Posting Komentar