Siapa Mau Jadi Monyet?

Salah satu kisah yang kuingat sewaktu masih kecil adalah kisah tentang pertapa sakti yang baru saja menyelesaikan Tapa Brata untuk mendapatkan kesaktian. 

Ketika ia turun gunung dan masuk ke kampung, ditemuinya seorang anak yang keluar rumah tanpa pakaian. 

Seketika itu juga sang pertapa sakti itu berkata dalam hati, hai kamu anak yang keluar rumah tidak memakai pakaian, saya kutuk kamu sekarang menjadi monyet. 

Saya tidak pernah bisa menerima kisah ini karena seperti tidak ada ampun lagi dan tidak ada kesempatan untuk si anak menjadi manusia. Sekali telanjang dan dikutuk, selamanya menjadi monyet. 

Ketika dewasa saya tahu yang dimaksud pakaian bukanlah baju tetapi ageman atau agama, suatu pegangan yakni nilai-nilai kehidupan yang di dalamnya juga ada sejarah, siapa diri di hadapan Tuhan siapa diri di hadapan semesta, siapa diri dihadapan sesama, siapa diri bagi diri sendiri. 

Boeng Karno sendiri menyandingkan kata Monyet dengan frasa Jas Merah yang berarti Jangan Sekali-sekali melupakan sejarah. Kalau manusia sudah lupa pada sejarah maka ia akan hidup sebagai monyet. 

Dan laju pemonyetan manusia sekarang ini menjadi sangat cepat dan massif karena sangat banyak orang sekarang tidak lagi mengenal budayanya, leluhurnya, dan bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. 

Orang menjadi begitu obsesif pada citra yang nampak pada benda super sakti yang menempatkan dunia di genggaman tangan. Jadi bukan hanya dewa-dewa dan Tuhan saja yang digambarkan membawa bola dunia di genggaman tangan tetapi semua manusia zaman sekarang, baik yang berageman maupun yang tidak lagi percaya pada pentingnya ageman. 

Dalam situasi kalut bahwa sekarang berita dan cerita pada layar datar yang hangat karena pemakaian batrai lithium itu telah lebih banyak mengendalikan pikiran dan pilihan hidup orang, saya tiba-tiba melihat gambar ini di story WA teman saya. 


Suatu ajakan yang sarkas sekaligus masuk akal di tengah dunia yang penuh masalah ini, manusia cenderung diajak untuk melepaskan ageman atau pakaian dan menjadi monyet. 

Bahwa jauh lebih mudah dan sederhana hidup menjadi monyet daripada menjadi manusia, begitu asumsinya. Padahal menjadi monyet juga tidak mudah di zaman ini. Pembalakan hutan, kebakaran hutan, bencana alam, dan hilangnya tanaman buah di hutan telah membuat orang utan, monyet, beruk, dan mamalia lainnya tidak dapat lagi hidup bebas dan mudah seperti misalnya bergelantungan di hutan tanpa masalah. Manusia tidak akan pernah benar-benar menjadi monyet dan siapa juga yang mau menjadi menyet secara fisik, ya kalau bodo amat sama sejarah dan yang penting sekarang bisa gelantungan mah banyak kayaknya...

Kalau bergelantungan di aula  seminari pernah menjadi kesukaan? kok bisa?

Ada suatu hari seorang guru bahasa dan sastra Indonesia di SMA Gonzaga sangat jengkel dengan anak-anak Seminari kelas KPP yang ribut saja ketika ia memaparkan kisah Mahabarata. Nampaknya hari itu suasana belajar di kelas sedang tidak kondusif.

Karena suara ribut sudah tidak dapat dikendalikan akhirnya ibu Guru kami itu mengatakan dengan keras, "Kalian itu seperti monyeet". 

Awalnya kelas menjadi diam, tetapi kemudian ia melanjutkan bahwa itulah yang dia katakan kepada anak-anak Seminari angkatan sekian karena mereka berisik di kelas. Tidak hanya itu lalu diberi hukuman fisik bergelayutan di antara kayu-kayu yang terdapat di antara koridor dan ruang rekreasi.

Bergelayutan bukanlah beban karena menyenangkan dan membuat tidak mengantuk, alias menantang. Tetapi istilah monyet ini menarik untuk direfleksikan.

Semonyet itukah aku sehingga aku bangga ketika disebut monyet? Kriteria apalagi yang pantas disematkan pada monyet selain bergelayutan, telanjang, dan bersenang-senang?

Di titik ini saya masih belum bisa menerima kisah orangsakti yang mengutuk anak yang tidak berpakaian menjadi monyet, karena saya kira sekarang lebih banyak monyet yang membawa benda sakti mengutuk manusia apapun menjadi monyet dengan memviralkannya.

Sekarang tinggal bagaimana diri sendiri, karena sebanyak apapun dipuji, monyet akan tetap monyet. Dan sebanyak apapun dicela, berlian akan tetap berlian. 

Artinya jangan pernah membiarkan orang lain memberikan definisi apapun pada diri karena justru respons terhadap definisi itulah yang memberikan legitimasi dan pembenaran atasnya. 

Celoteh ini akan kututup dengan sebuah Puisi yang kuberi judul "Pandemi dan Demi"


Pandemi paling berbahaya adalah yang menjadikan manusia berkualitas seperti monyet

Tidak lagi memakai ageman, tidak lagi mengenal sejarah, tidak lagi mengenal diri

Pandemi apapun tidak akan membuat manusia menjadi monyet

Selama rasa menjadi makin sensitif

Selama tulisan menjadi makin tajam

Selama kehendak menjadi makin kuat

Selama kasih menjadi semakin nyata dalam tindakan


Pandemi membuat orang makin berserah pada Tuhan 

Kehendak makin kuat, Suscipe makin yakin

Walau godaan dan lanturan selalu ada

Inspirasi konsolasi desolasi silih berganti

Tapi fokus tetap satu 

TERUS MAJU 

MENGELABORASI GAGASAN  

Sepanjang waktu 

Jadi Arus Perubahan Bergerak Maju

Dunia Baru yang Berkesadaran dan Berteknologi ramah lingkungan

Memberi tempat untuk selalu ingat siapa diri

dari mana aku berasal,

ke mana aku akan pergi,

dan apa yang harus kubuat untuk berpartisipasi pada proses evolusi bumi

Semakin biasa Semakin manusiawi

Komentar