Bukan hal asing lagi bagi anak-anak Gonzaga dan alumni-alumninya bahwa Pater J Drost, kepala sekolah pertama SMA Kolese Gonzaga-Seminari Wacana Bhakti adalah mantan Rektor Universitas Sanata Dharma yang pada masanya masih berupa IKIP Sanata Dharma.
Suatu hari di perpustakaan, saya mendapatkan kisah ini dari seorang guru lulusan IKIP Sanata Dharma semasa pater Drost menjabat sebagai Rektor.
"Saat demo mahasiswa tahun 1966 menurunkan Soekarno, hanya kampus Sanata Dharma yang tidak mengirimkan perwakilannya. Pater Drost sebagai Romo Rektor tidak pernah punya niat sedikitpun mengkhianati Boeng Karno. Dia meminta mahasiswanya tetap tenang dan tidak ikut-ikutan berdemo. Akhirnya BEMU IKIP Sanata Dharma dikirimi celana dalam wanita dan lipstik oleh koordinator demo. Sadhar dicap pengecut", demikian kalimat tersebut disambut dengan kesunyian. Sebelum suara bell tanda istirahat sekolah memecah kesunyian, beliau berceritra kembali, "Tetapi nyata benar sekarang bahwa demo mahasiswa tahun 1966 telah mengagalkan revolusi 45 yang belum selesai dan mengakibatkan hancurnya negri ini secara sistemik menjadi negri yang terjajah."
Ingatanku kembali ke gedung-gedung kampus Sanata Dharma yang makin gagah berdiri, taman-taman dengan beringin Sukarnonya, laboratorium-laboratorium, gedung auditorialnya, kegiatan-kegiatan seni budayanya serta fakultas-fakultasnya yang semakin maju.
Di Jogja, di Jakarta, nama Pater Drost selalu dikenang sebagai seorang Nasionalis yang setia pada Boeng Karno dan sosok pendidik sejati yang mengajarkan arti kemerdekaan dan Kemanusiaan, Man and Women for others, Ad Maiorem Dei Gloriam.
Suatu hari di perpustakaan, saya mendapatkan kisah ini dari seorang guru lulusan IKIP Sanata Dharma semasa pater Drost menjabat sebagai Rektor.
"Saat demo mahasiswa tahun 1966 menurunkan Soekarno, hanya kampus Sanata Dharma yang tidak mengirimkan perwakilannya. Pater Drost sebagai Romo Rektor tidak pernah punya niat sedikitpun mengkhianati Boeng Karno. Dia meminta mahasiswanya tetap tenang dan tidak ikut-ikutan berdemo. Akhirnya BEMU IKIP Sanata Dharma dikirimi celana dalam wanita dan lipstik oleh koordinator demo. Sadhar dicap pengecut", demikian kalimat tersebut disambut dengan kesunyian. Sebelum suara bell tanda istirahat sekolah memecah kesunyian, beliau berceritra kembali, "Tetapi nyata benar sekarang bahwa demo mahasiswa tahun 1966 telah mengagalkan revolusi 45 yang belum selesai dan mengakibatkan hancurnya negri ini secara sistemik menjadi negri yang terjajah."
Ingatanku kembali ke gedung-gedung kampus Sanata Dharma yang makin gagah berdiri, taman-taman dengan beringin Sukarnonya, laboratorium-laboratorium, gedung auditorialnya, kegiatan-kegiatan seni budayanya serta fakultas-fakultasnya yang semakin maju.
Di Jogja, di Jakarta, nama Pater Drost selalu dikenang sebagai seorang Nasionalis yang setia pada Boeng Karno dan sosok pendidik sejati yang mengajarkan arti kemerdekaan dan Kemanusiaan, Man and Women for others, Ad Maiorem Dei Gloriam.
| Sumber dari Wikipedia |
Komentar
Posting Komentar