Kemarin pak Regi seorang guru komputer bercerita bahwa di lab komputer ada sebuah mesin AC yang tak pernah dinyalakan. Lho, mengapa mesin AC-nya tidak dinyalakan pak? tanyaku padanya.
Di AC yang satu itu ada banyak sarang burungnya. Kalau keadaan lagi hening dah kedengeran banget suara burungnya ciat-ciat. Makanya ga saya nyalain. Kasihan sama burungnya.
Mendengar kabar itu, maka pak Jo melaporkannya kepada Mr. Uuk, presiden listrik dan per-AC-an sekolah.
***
Akhirnya siang ini Mr. Uuk datang dan membongkar mesin AC yang disebutkan oleh Pak Regi. Ternyata memang benar kalau ada sebuah sarang burung gereja yang ada di dalam Mesin AC tersebut.
Begitu sarangnya diambil, ternyata ada seekor burung gereja yang kakinya terikat tali rafia di sarang tersebut. Entah bagaimana ceritanya itu bisa terjadi, saya merasa kasihan sekali ketika pak Jo dengan bergegas membawa sarang burung dan burung yang kakinya terikat itu ke PerpusGonz untuk mendapatkan pertolongan.
Saya dengan segera mencarikan gunting dan memotong tali tersebut menjadi tiga bagian. Bagian pertama memutus tali dari sarang sehingga menyisakan bagian kecil tali yang terikat dengan kaki. Saya khawatir kalau-kalau yang terpotong adalah kaki si burung itu. Maka dengan hati-hati saya potong lagi bagian kedua yang dekat dengan kaki burung yang kecil dan tidak normal tersebut. Dan yang terakhir adalah memotong tali yang melingkar di pergelangan kaki burung itu.
Nampaknya burung malang itu hanya pasrah diam dan sama sekali tidak bergerak. Suara ciat-ciat yang selalu dia buat sejak masa akhir pelajaran tahun lalu hingga hari ini akhirnya berbuah juga. Pembebasan atas tali yang mencerat kakinya dan membuatnya berdiam di dalam mesin AC lab komputer berakhir sudah.
Pertanyaanku berikutnya adalah, bagaimana mungkin dia bisa hidup? Makan makanan apa dia selama ini? Pak Jo bilang kalau ibu dan bapaknyalah yang menghantarkan makanan melalui lubang bekas AC yang sudah tidak dipakai. Sewaktu saya menghantar pak Jo dan si burung kembali ke jendela, nampak dua burung gereja yang satu besar dan yang satunya agak kecil terbang kiang kemari di sekitar mesin AC dan genteng koridor.
Jangan dilepaskan pak. Mungkin si burung tak bisa terbang. Kulihat burung itu hanya diam sampai beberapa saat. Lalu mulai mengepakkan sayap dan nemplok dahan tertinggi pohon cemara. ah lega sudah kulihat dua burung yang tadi terbang kian kemari juga ciat-ciat seperti bergembira dan berterimakasih setelah tadi terlihat cemas karena kami mengambil sarang dan anak burung yang ada di dalamnya.
***
Berciat-ciatlah tiada henti burung, karena ciat-ciatmu tiada sia-sia. (karena termakan perasaan kasihan dan kesegeraan ingin menolong sampai lupa ambil gambar si burung. Akhirnya gambar ini diambil dari mbah google.)

Komentar
Posting Komentar