Tulisan ini adalah tanggapan atas postingan pak Is di youtube channelnya Isharmanto Gonzaga.
Laskar Gonzaga adalah sebuah kelompok supporter olah raga. Laskar Gonzaga lahir dari budaya dan tradisi yang tumbuh di SMA Kolese Gonzaga pada tahun 2003 yakni sejak masa New Jambore yang digagas oleh tiga orang yang pantas untuk dikenang namanya selamanya, bapak Agus Dewa Irianto, bapak Isharmanto, dan bapak Edward Vau. Merekalah yang membawa gaya New Jambore model Outbound atau Outward Bound yang sebelumnya diperkenalkan ke Indonesia oleh Outward Bound Indonesia (OBI) dan kemudian melalui proses adaptasi menjadi model pelatihan di alam terbuka bebas dengan gaya Gonzaga.
Pada waktu itu pelatihan dan pendidikan alam terbuka bebas model Outbound diperuntukkan bagi karyawan-karyawati perusahaan besar. Tetapi di Gonzaga, pelatihan-pelatihan tersebut menjadi sarana untuk melatih dan mendidik siswa-siswi Kolese Gonzaga dalam menghayati semangat AMDG. Model Jambore Outbound sebenarnya tidak jauh berbeda dari model Jambore Gonzaga sebelumnya. Hanya unsur safety dalam pelatihan dan pendidikan menjadi unsur pertama dan utama dalam mencapai tujuan Jambore. Tentang sejarah Jambore Gonzaga akan saya tuliskan berikutnya.
Kembali ke Laskar Gonzaga, tidak ada yang lebih utama dari kebersamaan dan ikatan persaudaraan bagi siswa-siswi SMA Gonzaga. Karena dalam kedua hal tersebut nilai-nilai yang Competence, Commitment to Compassion, dan Conscience dapat dilaksanakan. Pada awal tahun 2002, hanya anak-anak seminary saja yang memiliki kelompok supporter. Kebersamaan mereka dalam mendukung tim seminary kemudian berkembang menjadi dukungan kepada tim SMA Gonzaga terutama ketika tim basket putri SMA Gonzaga sedang bertanding. Maklum, seminary itu "Jaler Sedaya" alias Laki Semua. Kelompok supporter itu kemudian menamakan dirinya "The Webs WB Mania".
Saya menyaksikan bagaimana siswa-siswi SMA Gonzaga kemudian bergabung dengan barisan supporter anak-anak seminary menyanyikan nyanyian yang sama untuk mendukung tim basket putri. Suaranya membahana. Kemudian tercetuslah gagasan untuk membentuk tim supporter sendiri yang pada masa itu masih sebatas penyemangat setiap kali tim Basket dan Sepakbola bertanding baik di acara Gonzaga School Meeting maupun pertandingan kejuaraan olahraga di luar sekolah. Anak-anak seminary diundang untuk membawa serta perlengkapan trompet guna meramaikan tim supporter tersebut.
Kemudian saya lulus dan masuk ke novisiat Serikat Yesus Girisonta hingga tahun 2008. Pada masa ini Laskar Gonz sudah menyanyikan lagu Long Live My Family Endank Soekamti sebagai lagu penutup di setiap akhir pertandingan dengan tangan terkepal mengarah ke langit. Tangan ini bukan berarti mengajak berkelahi seperti yang dapat disalahartikan oleh banyak orang. Tangan ini adalah tanda persaudaraan dan kebersamaan. Siswa-siswi SMA Gonzaga bukanlah anak-anak SMA yang tidak punya kegiatan. Ada tarikan yang kuat antara kegiatan akademis dan non akademis seperti ekskul maupun acara-acara Senat (semacam OSIS). Kehadiran dan kepalan tangan itu menunjukkan dukungan Laskar bagi siswa-siswi yang berjuang mengharumkan nama sekolah dalam tegangan kreatif antara yang akademis dan non-akademis tersebut. Mereka merelakan waktu untuk bersama-sama meninggalkan segala demi mendukung perjuangan tersebut.
Tahun 2013, setelah saya bergabung sebagai Pustakawan di sekolah tersebut, baru saya tahu kalau Laskar Gonzaga bukan hanya sekadar supporter. Laskar Gonzaga telah berkembang menjadi kelompok penggerak di setiap kegiatan yang dibuat siswa-siswi Gonzaga. Suatu persaudaraan yang tidak hanya nyata dalam bentuk dukungan di lapangan olahraga, tetapi juga persaudaraan dan solidaritas dalam perjuangan bersama mengharumkan nama sekolah tercinta.
Saya secara pribadi sering diundang untuk hadir dan mendukung Laskar Gonzaga yang juga mendaulat dirinya bagian dari Kamtis Family dengan mendatangkan kembali Endank Soekamti dalam Gonzaga Festival 2015. Setahun sebelumnya mereka menyanyikan lagu Long Live My Family dan Mars Kolese Gonzaga di Bundaran HI. Berikut ini adalah rekaman terakhir Laskar Gonzaga yang saya saksikan. Semoga Laskar Gonzaga tetap terjaga keberlanjutannya. Majulah selalu LASKAR GONZAGA. Ikuti kegiatan Laskar Gonzaga di Instagramnya Laskar Gonzaga.
Gonzaga For Siempre
ForeverGonzaga
Gonzaga untuk Selamanya
AMDG
Laskar Gonzaga adalah sebuah kelompok supporter olah raga. Laskar Gonzaga lahir dari budaya dan tradisi yang tumbuh di SMA Kolese Gonzaga pada tahun 2003 yakni sejak masa New Jambore yang digagas oleh tiga orang yang pantas untuk dikenang namanya selamanya, bapak Agus Dewa Irianto, bapak Isharmanto, dan bapak Edward Vau. Merekalah yang membawa gaya New Jambore model Outbound atau Outward Bound yang sebelumnya diperkenalkan ke Indonesia oleh Outward Bound Indonesia (OBI) dan kemudian melalui proses adaptasi menjadi model pelatihan di alam terbuka bebas dengan gaya Gonzaga.
Pada waktu itu pelatihan dan pendidikan alam terbuka bebas model Outbound diperuntukkan bagi karyawan-karyawati perusahaan besar. Tetapi di Gonzaga, pelatihan-pelatihan tersebut menjadi sarana untuk melatih dan mendidik siswa-siswi Kolese Gonzaga dalam menghayati semangat AMDG. Model Jambore Outbound sebenarnya tidak jauh berbeda dari model Jambore Gonzaga sebelumnya. Hanya unsur safety dalam pelatihan dan pendidikan menjadi unsur pertama dan utama dalam mencapai tujuan Jambore. Tentang sejarah Jambore Gonzaga akan saya tuliskan berikutnya.
Kembali ke Laskar Gonzaga, tidak ada yang lebih utama dari kebersamaan dan ikatan persaudaraan bagi siswa-siswi SMA Gonzaga. Karena dalam kedua hal tersebut nilai-nilai yang Competence, Commitment to Compassion, dan Conscience dapat dilaksanakan. Pada awal tahun 2002, hanya anak-anak seminary saja yang memiliki kelompok supporter. Kebersamaan mereka dalam mendukung tim seminary kemudian berkembang menjadi dukungan kepada tim SMA Gonzaga terutama ketika tim basket putri SMA Gonzaga sedang bertanding. Maklum, seminary itu "Jaler Sedaya" alias Laki Semua. Kelompok supporter itu kemudian menamakan dirinya "The Webs WB Mania".
Saya menyaksikan bagaimana siswa-siswi SMA Gonzaga kemudian bergabung dengan barisan supporter anak-anak seminary menyanyikan nyanyian yang sama untuk mendukung tim basket putri. Suaranya membahana. Kemudian tercetuslah gagasan untuk membentuk tim supporter sendiri yang pada masa itu masih sebatas penyemangat setiap kali tim Basket dan Sepakbola bertanding baik di acara Gonzaga School Meeting maupun pertandingan kejuaraan olahraga di luar sekolah. Anak-anak seminary diundang untuk membawa serta perlengkapan trompet guna meramaikan tim supporter tersebut.
Kemudian saya lulus dan masuk ke novisiat Serikat Yesus Girisonta hingga tahun 2008. Pada masa ini Laskar Gonz sudah menyanyikan lagu Long Live My Family Endank Soekamti sebagai lagu penutup di setiap akhir pertandingan dengan tangan terkepal mengarah ke langit. Tangan ini bukan berarti mengajak berkelahi seperti yang dapat disalahartikan oleh banyak orang. Tangan ini adalah tanda persaudaraan dan kebersamaan. Siswa-siswi SMA Gonzaga bukanlah anak-anak SMA yang tidak punya kegiatan. Ada tarikan yang kuat antara kegiatan akademis dan non akademis seperti ekskul maupun acara-acara Senat (semacam OSIS). Kehadiran dan kepalan tangan itu menunjukkan dukungan Laskar bagi siswa-siswi yang berjuang mengharumkan nama sekolah dalam tegangan kreatif antara yang akademis dan non-akademis tersebut. Mereka merelakan waktu untuk bersama-sama meninggalkan segala demi mendukung perjuangan tersebut.
Tahun 2013, setelah saya bergabung sebagai Pustakawan di sekolah tersebut, baru saya tahu kalau Laskar Gonzaga bukan hanya sekadar supporter. Laskar Gonzaga telah berkembang menjadi kelompok penggerak di setiap kegiatan yang dibuat siswa-siswi Gonzaga. Suatu persaudaraan yang tidak hanya nyata dalam bentuk dukungan di lapangan olahraga, tetapi juga persaudaraan dan solidaritas dalam perjuangan bersama mengharumkan nama sekolah tercinta.
Saya secara pribadi sering diundang untuk hadir dan mendukung Laskar Gonzaga yang juga mendaulat dirinya bagian dari Kamtis Family dengan mendatangkan kembali Endank Soekamti dalam Gonzaga Festival 2015. Setahun sebelumnya mereka menyanyikan lagu Long Live My Family dan Mars Kolese Gonzaga di Bundaran HI. Berikut ini adalah rekaman terakhir Laskar Gonzaga yang saya saksikan. Semoga Laskar Gonzaga tetap terjaga keberlanjutannya. Majulah selalu LASKAR GONZAGA. Ikuti kegiatan Laskar Gonzaga di Instagramnya Laskar Gonzaga.
Gonzaga For Siempre
ForeverGonzaga
Gonzaga untuk Selamanya
AMDG

Komentar
Posting Komentar