Suatu hari ada seorang anak remaja datang padaku dan bercerita tentang bagaimana orangtuanya memaksa dia masuk ke sebuah jurusan perkuliahan. Pada akhirnya dia bertanya, "Mas Edy, bagaiamana caranya menyelesaikan masalah-masalah yang begitu rumit itu?"
Aku sendiri tak tahu bagaimana cara pikiranku bekerja, tetapi spontan aku menjawabnya tanpa banyak berpikir, seolah-olah kata-kata itu keluar sendiri dari dalam hati menuju ke mulut,"Tidak semua permasalahan dapat kita selesaikan sendiri. Ada permasalahan-permasalahan yang dapat kita selesaikan ada pula permasalahan-permasalahan yang tidak dapat kita selesaikan. Tentu kita berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan permasalahan yang dapat kita selesaikan, Tetapi selalu saja ada masalah yang tidak dapat kita selesaikan. Semua yang berada di luar kekuatan dan kemampuan kita itu harus kita serahkan dalam iman dan keyakinan pada Tuhan. Biar Tuhan yang mengurusnya. Let's do the best and Let God to do the rest."
Lalu aku teringat pada semua kisah dan perasaanku yang tidak selesai. Aku yakin Tuhan akan menyelesaikannya. Dan ajaib, seminggu kemudian remaja itu mau mengikuti saran kedua orangtuanya. Ayahnya sangat berterimakasih padaku karena saran-saran yang kuberikan. Saya hanya diam dan dalam hati berkata bahwa Tuhan itu ada dan Dia pasti berbicara tentang hal itu juga di dalam hati remaja itu. Enaknya jadi orang beriman, tidak menanggung semua beban dunia sendiri.
Gambar di atas ini menceritakan pengalaman si Bapak Demokrasi Pendidikan yang bernama Ignatius Loyola itu akhirnya mengalami peneguhan setelah segala pengalaman ziarahnya terlaksana. Begitu banyak permasalahan yang ditinggalkan Ignatius untuk sungguh-sungguh bertobat dan move on. Di sebuah kapel di La Storta, ia berdoa dan melihat apa yang dilukiskan dalam gambar ini. Gambaran Yesus yang memanggul salib dan permintaan untuk mengikuti gambaran itu. Ignatius tidak pernah sekalipun cari "enaknya". Dia selalu mencari dan menemukan apa yang menjadi kehendak Tuhan di dalam dirinya. Karena Ignatius tidak hanya mengalami "enaknya" tetapi juga menjadi "anak-Nya" yang terkasih.
Setelah mengalami enaknya punya Tuhan yang memanggul salib, menyelesaikan masalah-masalah masa lalunya dengan jalan pertobatan, dia diajak untuk mengikuti dan melayani Tuhan yang memanggul salib tersebut. Tentu ini adalah sebuah panggilan dan karunia. Tidak semua orang mendapat kesempatan dan pengalaman yang istimewa seperti Ignatius.
Tidak semua masalah dapat kita selesaikan, tetapi ketika berserah kepada Tuhan dalam iman, seseorang akan terus ditarik semakin dalam dan semakin dalam dalam pengalaman kasih Tuhan yang tanpa batas. Dalam semuanya itu, Kasih Tuhan lebih besar dari semua yang terpikirkan.
What's next God? Feeling Excited!
AMDG
Forever Gonzaga
Gonzaga For Siempre
Gonzaga untuk Selamanya

Komentar
Posting Komentar