Asal Muasal Batik Bebas di Gonzaga

Jauuuh sebelum ada hari batik nasional.
Jauuuh sebelum sekolah-sekolah menengah memiliki tradisi memakai baju batik bebas.
Semua sekolah punya jenis batiknya masing-masing.
SD batiknya warna merah.
SMP, SMA, dan sekolah swasta punya seragam batiknya masing-masing.

Di bilangan Pejaten Barat, dipilihlah Bu Pur sebagai seoarang guru bahasa yang menangani pembelian seragam. Yang penah diajar sama Bu Purwanti pasti ingat logat Semarangnya yang kental. Seperti ini kurang lebihnya, "Siswa-siswi Kolese Gonzaga memakai seragam dengan bahan batik dan kain tenun ikat, untuk mendukung pelestarian budaya kain Indonesia."

"Ada anak Gonzaga yang tidak membeli kain batik di sekolah. Dia diajak ibunya memilih baju batik. Dia pikir, anak SMA batik bebas itu bisa bermotif apa saja. Ternyata setelah sampai di sekolah, anak tersebut terlihat agak canggung karena batik yang dipakai oleh teman-temannya adalah model batik-batik biasa."

Lalu semua anak Gonz yang mendengar kisah itu terdiam. Suasana perpus jadi senyap.

"Kamu tahu apa motif yang dia pakai?"

Semua anak SMA yang mengelilingi bu Pur menunggu kejutan ceritanya. Ada juga yang terdiam dengan jari telunjuk di dalam hidung dan upil mungil di ujung kukunya.

"Dia memakai batik bermotif tengkorak"


Ada juga cerita,
seorang anak gonz kaget waktu datang ke sekolah.
"kok semua anak pakai baju batik?"
"kok cuma guwe sendiri yang pakai baju putih."

di depan ruang moderator, frater dan pater moderator sedang mengajak bicara anak-anak yang memakai seragam  sekolah yang salah.

"Kamu pulang dan kembali lagi ke sekolah dengan seragam batik!"
"Pater, bisa baca ini ga?"
Pater moderator menaikkan kacamatanya dan melihat tulisan yang ditunjuk si anak di saku bajunya.
INI BATIK!
begitu tulisannya. Pater Moderator hanya bisa geleng kepala dan menepuk pundak sang anak dengan kebapakannya, "Besok jangan salah seragam lagi!"

Kemudian masuklah anak berikutnya yang memakai baju kemeja putih dan celana abu-abu.
Pater Moderator memanggil namanya dengan kebapakan sambil bertanya,
"Kamu salah pakai seragam, kenapa tidak lapor?"
Anak itu mukanya kalem sekali. Malah cengar-cengir sambil putar badannya.
"Lihat Pater, ini baju batik."
Kemeja putihnya bagian belakang sudah digambari motif batik dengan spidol marker.

Belasan tahun kemudian, guru seni lukis  Bonifasius Djoko dan Julian mengadakan pameran batik yang didesain secara otodidak oleh anak-anak kelas seni Gonzaga.

"Bebas Bertanggung Jawab, Karena kebebasan yang mutlak tidak pernah ada."

kain tenun ikat troso dari jepara. di sini.

Komentar