Bruder Budi SJ adalah salah satu kepala sekolah SMA Kolese Gonzaga. Ia dikenang karena teladan kerendahan hatinya. Bagaimana sih kisahnya?
Begini ceritanya...
Pada suatu pagi di hari minggu, seorang siswa kelas 3 SMP di bilangan Jakarta Selatan datang ke Kolese Gonzaga yang banyak pohonnya dan rindang tempatnya. Banyak daun-daun berguguran diterpa angin. Pada waktu itu, setengah lapangan basket adem karena rindangnya pohon-pohon menjadi seperti tembok alami yang menghalangi sinar matahari. Jelas, siswa ini mencari informasi mengenai SMA Kolese Gonzaga yang muridnya boleh berambut gondrong itu.
Setelah berkeliling dan bingung di mana ia dapat bertanya tentang informasi registrasi ulang, akhirnya ia memberanikan diri menemui seseorang yang terlihat sedang menyapu di depan pintu teralis besi. Rupa-rupanya banyak daun dari pohon jamblang bertebaran di depan pintu masuk.
"Permisi pak bon, saya mau tanya. Di mana saya bisa melakukan registrasi ulang?"
Pria tersebut nampak tersenyum melihat remaja PD itu. Lalu ditunjukkanlah gedung rektorat yang berada di sebelah Aula Seminary itu.
"Tanyakanlah tata cara registrasi ulang kepada bapak yang berjaga di gedung itu."
Remaja itu bertanya lagi, "Siapa nama bapak itu pak?"
Pria itupun menjawab, "Namanya pak Suro!"
Setelah mendapatkan formulir pendaftaran dari pak Suro, akhirnya pemuda itupun pulang ke rumah dan menemui ibunya.
"Tadi pagi saya sudah registrasi ulang ma. Untung saja ada pak bon yang sedang nyapu. Coba kalau tak ada, aku harus pulang pergi tanpa hasil dong."
"Tuh kan, mama sudah bilang, kalau mau registrasi itu jangan pas hari minggu."
"Habis aku kan kemarin masih bingung ma, mau masuk Negri 28 atau ke Gonzaga"
Akhirnya percakapan antara mama dan anaknya berlanjut ke masalah-masalah lain seperti jarak tempuh rumah-Gonzaga, naik angkotnya apa, dan berapa biayanya.
***
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah. Upacara bendera digelar untuk menyambut kedatangan calon siswa-siswi yang baru. Tentu masih terkenang di wajah para calon siswa tentang kehangatan calon kakak-kakak kelas mereka pada waktu tes pendaftaran dan tes wawancara. Senang sekali, bangga, dan deg-degan rasanya masuk ke SMA Gonzaga. Begitu juga yang dirasakan oleh siswa yang kemarin baru saja registrasi ulang itu.
Semua siswa baris dengan rapi ditata oleh bapak berkumis yang legendaris itu, Bapak Agus Dewa. Semua siswa yang gondrong dan sangar-sangar itu hormat dan taat pada komando-komandonya. Hal itu membuatnya terkagum-kagum karena pak Dewa bukan orang yang besar badannya. Pembawaannya juga sederhana dan apa adanya. Tetapi tatapan matanya penuh wibawa dan suaranya tegas-tegas gimana gitu. hehe.
Tetapi yang membuat suasana menjadi agak aneh adalah pada saat upacara dimulai. Saat-saat itu adalah saat pembina upacara memasuki lapangan upacara. Seorang yang wajahnya serius itu naik ke podium dan semua diam tanpa suara. Kemudian pemimpin upacara yang rambutnya paling gondrong memimpin penghormatan kepadanya.
"Kayaknya gw kenal tuh pembina upacara" bisik siswa yang kemarin registrasi ulang itu kepada salah seorang teman yang baru dikenalnya pagi itu.
"Anjrit malu gw, ternyata orang yang kemarin gw panggil pak bon itu kepala sekolah."
Bulukuduknya berdiri semua... brrrr. Dan kisah ini menjadi cerita legenda yang menjadi buah pembicaraan di antara alumni, guru, dan karyawan hingga saat ini.
Begini ceritanya...
Pada suatu pagi di hari minggu, seorang siswa kelas 3 SMP di bilangan Jakarta Selatan datang ke Kolese Gonzaga yang banyak pohonnya dan rindang tempatnya. Banyak daun-daun berguguran diterpa angin. Pada waktu itu, setengah lapangan basket adem karena rindangnya pohon-pohon menjadi seperti tembok alami yang menghalangi sinar matahari. Jelas, siswa ini mencari informasi mengenai SMA Kolese Gonzaga yang muridnya boleh berambut gondrong itu.
Setelah berkeliling dan bingung di mana ia dapat bertanya tentang informasi registrasi ulang, akhirnya ia memberanikan diri menemui seseorang yang terlihat sedang menyapu di depan pintu teralis besi. Rupa-rupanya banyak daun dari pohon jamblang bertebaran di depan pintu masuk.
"Permisi pak bon, saya mau tanya. Di mana saya bisa melakukan registrasi ulang?"
Pria tersebut nampak tersenyum melihat remaja PD itu. Lalu ditunjukkanlah gedung rektorat yang berada di sebelah Aula Seminary itu.
"Tanyakanlah tata cara registrasi ulang kepada bapak yang berjaga di gedung itu."
Remaja itu bertanya lagi, "Siapa nama bapak itu pak?"
Pria itupun menjawab, "Namanya pak Suro!"
Setelah mendapatkan formulir pendaftaran dari pak Suro, akhirnya pemuda itupun pulang ke rumah dan menemui ibunya.
"Tadi pagi saya sudah registrasi ulang ma. Untung saja ada pak bon yang sedang nyapu. Coba kalau tak ada, aku harus pulang pergi tanpa hasil dong."
"Tuh kan, mama sudah bilang, kalau mau registrasi itu jangan pas hari minggu."
"Habis aku kan kemarin masih bingung ma, mau masuk Negri 28 atau ke Gonzaga"
Akhirnya percakapan antara mama dan anaknya berlanjut ke masalah-masalah lain seperti jarak tempuh rumah-Gonzaga, naik angkotnya apa, dan berapa biayanya.
***
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah. Upacara bendera digelar untuk menyambut kedatangan calon siswa-siswi yang baru. Tentu masih terkenang di wajah para calon siswa tentang kehangatan calon kakak-kakak kelas mereka pada waktu tes pendaftaran dan tes wawancara. Senang sekali, bangga, dan deg-degan rasanya masuk ke SMA Gonzaga. Begitu juga yang dirasakan oleh siswa yang kemarin baru saja registrasi ulang itu.
Semua siswa baris dengan rapi ditata oleh bapak berkumis yang legendaris itu, Bapak Agus Dewa. Semua siswa yang gondrong dan sangar-sangar itu hormat dan taat pada komando-komandonya. Hal itu membuatnya terkagum-kagum karena pak Dewa bukan orang yang besar badannya. Pembawaannya juga sederhana dan apa adanya. Tetapi tatapan matanya penuh wibawa dan suaranya tegas-tegas gimana gitu. hehe.
Tetapi yang membuat suasana menjadi agak aneh adalah pada saat upacara dimulai. Saat-saat itu adalah saat pembina upacara memasuki lapangan upacara. Seorang yang wajahnya serius itu naik ke podium dan semua diam tanpa suara. Kemudian pemimpin upacara yang rambutnya paling gondrong memimpin penghormatan kepadanya.
"Kayaknya gw kenal tuh pembina upacara" bisik siswa yang kemarin registrasi ulang itu kepada salah seorang teman yang baru dikenalnya pagi itu.
"Anjrit malu gw, ternyata orang yang kemarin gw panggil pak bon itu kepala sekolah."
Bulukuduknya berdiri semua... brrrr. Dan kisah ini menjadi cerita legenda yang menjadi buah pembicaraan di antara alumni, guru, dan karyawan hingga saat ini.
Komentar
Posting Komentar