JAKARTA NIGHT RIDE 2015, SAYA CINTA INDONESIA!

Jakarta pada malam 17 Agustus 2015 adalah malam yang istimewa bagi puluhan siswa-siswi SMA Kolese Gonzaga. Bagi mereka malam kemerdekaan adalah saat yang tepat untuk berkumpul, berziarah, dan mengheningkan cipta di tempat proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dibacakan. Ini memang bukan acara biasa dan baru pertama kalinya diadakan di antara siswa. Mereka tidak menyebut ini sebagai acara sekolah karena memang berangkat dari inisiatif pribadi. Walaupun begitu, persiapan fisik maupun mental telah disiapkan dengan matang. Hal ini nampak dari siapnya kendaraan, tempat berkumpul yang luas, konsumsi, dokumentasi, hingga jasa keamanan dari dua orang polisi yang mengawal di depan dan belakang rombongan Night Ride malam itu.


Rombongan berkumpul di bekas pom bensin Jalan Antasari no. 8 persis di depan halte jalan Antasari. Estimasi peserta mencapai 500 orang karena undangan ditujukan kepada semua alumni SMA Kolese Gonzaga dan keluarganya serta khalayak umum. Walapun hanya ditanggapi oleh beberapa orang alumni dari angkatan 18, 19, dan 26, semangat dan niat melaksanakan kegiatan tidak berkurang sedikitpun. Setelah menunggu semua peserta dan dua orang anggota polisi, rombongan berangkat dari tempat berkumpul sekitar 20.30. Rute perjalanan dari Jalan Pangeran Antasari melewati SMA Kolese Gonzaga menuju Jalan Warung Buncit hingga ke Menteng dan berakhir di Tugu Proklamasi. Rombongan sampai di tempat tujuan pada pukul 23.30. Sesampainya di sana, ada orangtua murid yang sudah menyiapkan konsumsi yang segera disantap dalam kelompok-kelompok yang cair.
Tepat pada pukul 24.00, terdengar bunyi petasan dan kembang api. Dalam suasana yang hening, semua berkumpul membentuk lingkaran dan renungan tentang makna kemerdekaan dibuka lewat penjelasan singkat mengenai sejarah tugu proklamasi oleh ketua panitia Rangga Raditya yang juga menjabat ketua panitia Gonzaga Festival. “Tempat ini, 70 tahun yang lalu adalah rumah Presiden Sukarno, dan di sini pula Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Betapa beruntungnya kita semua berada di salah satu tempat penting bagi Negara Indonesia pada malam perayaan hari Kemerdekaan ini.”

Bapak Edy Winarto mengajak semua peserta untuk memberi makna kemerdekaan dengan membandingkan bagaimana kehidupan di Indonesia dengan kehidupan bagi orang yang berada di dalam daerah perang dan konflik seraya mengajak masing-masing membagikan pemahaman akan makna kemerdekaan. Bagi Nino dan Daniel, Indonesia pada saat ini sudah diakui sebagai sebuah bangsa, tetapi belum merdeka sepenuhnya. Banyak hal untuk kemerdekaan masih harus diperjuangkan. Masalah hukum, korupsi, hingga masalah ekonomi adalah PR bagi segenap bangsa Indonesia. Sedangkan bagi Dilon dan Brian, kemerdekaan telah dirasakan walaupun seringkali kita tidak mengisinya dengan penuh tanggungjawab. Frater Juprianto SJ turut menyampaikan renungannya bahwa kemerdekaan harus diisi dengan terus menerus menjadikan diri sebagai manusia yang tidak dikuasai oleh naluri melainkan dengan daya pikir, rasa perasaan, dan tindakan-tindakan manusiawi. Dalam hal inilah manusia menjadi bebas dan bertanggungjawab. Rico, Jayes, dan Yorin sebagai perwakilan angkatan 18 dan 19 mengapresiasi panitia yang berani melaksanakan acara malam kemerdekaan. Mungkin ini adalah acara pertama bagi siswa-siswi SMA di Jakarta akhir-akhir ini. Renungan malam itu disimpulkan sebagai sebuah kesadaran bahwa kemerdekaan merupakan proses yang harus diperjuangkan terus menerus dengan meningkatkan kualitas manusia dan mengupayakan tumbuhnya organasasi manusia demi mencapai tujuan kemerdekaan.

Akhirnya segenap peserta berfoto di depan tugu proklamasi untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Kolese Gonzaga. Di tempat inilah awal dari kemerdekaan yang terus menerus diperjuangkan oleh para penerus bangsa Indonesia. Di tempat ini pula semua peserta diajak untuk terus menerus memperjuangkan dan memaknai kemerdekaan sebagaimana mereka juga diajak untuk terus menerus memaknai dan memperjuangkan semangat-semangat kekolesean. Bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangkan, melainkan awal dari perjuangan panjang untuk meraih kemerdekaan sepenuhnya. Setelah berfoto, semua peserta menuliskan kesan dan pesan mereka bagi Indonesia di sebuah kanvas yang menjadi kenangan bahwa kesadaran kemerdekaan dan acara Night Ridepada malam kemerdekaan pernah terjadi di kalangan siswa-siswi SMA di Jakarta, SMA Kolese Gonzaga. 

Di hadapan patung Bung Karno dan Bung Hatta kami berdiri, jika mereka berkata, “Hai kaum muda, apa yang dapat kalian lakukan bagi Indonesia?”
Dengan yakin kami menjawab, “Kami akan memberikan hidup kami untuk mencintai Indonesia! Dan Inilah Cinta Itu, Jakarta Night Ride 2015!”





“Jumlah kami tidak banyak, usaha kami tidak besar, jarak yang kami tempuh tidak jauh, waktu yang kami lalui tidak lama, tetapi setidaknya kami dapat merasakan apa itu perjuangan dan memaknai kemerdekaan Republik Indonesia. #sayacintaindonesia#jakartanightride2015”, tulis Jeremy di akun instagramnya @jeremynapitupulu. 



AMDG.

Komentar